Berita guru 2026...
Masalah guru memang tak henti-hentinya, tapi kali ini benar benar membingungkan, ketidakpastian semakin membelenggu, banyak sekali skema untuk menjadi guru, tapi skema menjadi guru yang sejahtera patut dipertanyakan.
kalau mau jadi guru bisa saja dengan mengajar di les/bimbel, kemudian menjadi guru di sekolah swasta, menjadi guru honorer yang diangkat pemda maupun kepala sekolah, menjadi guru p3k, dan menjadi guru pns. Dari skema yang disebutkan, menjadi guru pns merupakan jalan yang paling menguntungkan, kesejahteraan guru menjadi pasti dan ada jaminan yang terpenuhi. lantas bagaimana guru yang lain? menjadi guru p3k tidak buruk, namun sistem nya kontrak, sehingga kapan saja kontrak itu bisa diputus, dan tidak ada jaminan pensiun sebagaimana pns, kemudian honorer pemda dan kepala sekolah sangat tergantung dengan dana bos dan uang pemda, ini jauh lebih tidak pasti lagi, bahkan aturan terbaru guru honorer ini dihapuskan tapi praktiknya seperti dipelihara dan benar-benar tidak ada habisnya, guru di sekolah swasta sangat bergantung pada yayasannya, jika yayasan bagus maka kesejahteraan guru pun bagus, tapi tidak ada yang menjamin guru tidak beruntung yang berada di yayasan tidak bagus, yayasan yang mungkin fokusnya uang bukan pendidikan, dan yang paling mandiri tentu jadi guru les/bimbel, peminatnya tampak masih cukup banyak, tapi benar-benar bergantung pada diri sendiri, ketidakpastian tentu lebih besar.
Kesimpulannya, kalau pengen jadi guru yang sejahtera dan menenangkan, jadilah guru pns, tapi masalahnya pembukaan guru pns saat itu sangat jarang, tidak setiap tahun dibuka, atau bisa juga mencoba menjadi guru pns yang dibuka kemenag dengan peluang yang juga tidak banyak.
kenapa pembukaan guru seolah-olah sangat sedikit? apakah jumlah guru kita sudah cukup? (tidak terjawab)
Grafik menunjukkan bahwa jumlah pendidik dan tenaga kependidikan aktif di Indonesia menurut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (26 Maret 2026) didominasi oleh jenjang SD sederajat dengan jumlah sekitar 1,95 juta orang, diikuti SMP sederajat sekitar 902 ribu orang. Secara keseluruhan, total pendidik dan tenaga kependidikan aktif di Indonesia mencapai sekitar 4,66 juta orang.
Grafik menunjukkan bahwa jumlah pendidik aktif di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia (26 Maret 2026) mencapai sekitar 832 ribu orang, jauh lebih banyak dibandingkan tenaga kependidikan yang berjumlah sekitar 108 ribu orang. Selain itu, jumlah madrasah di Indonesia tercatat sekitar 87 ribu unit, yang menunjukkan luasnya cakupan lembaga pendidikan berbasis keagamaan.
Data lebih lengkap per provinsi dapat diakses melalui laman data.kemendikdasmen.go.id dan emisgtk.kemenag.go.id
Pada akhirnya, data jumlah guru tunggal ini tidak bisa serta merta menjadi sebuah rujukan, dan sulit menerangkan kondisi guru yang kompleks, faktanya yang terjadi disekolah-sekolah saat ini, satu guru memegang beberapa mata pelajaran dan beberapa kelas, yang terkadang pekerjaan seorang guru menjadi overload, momen ini lah skema honor masuk untuk membantu guru-guru yang beban kerjanya terlalu banyak, perlu diingat tanggung jawab guru disini bukan hanya mengajar, tapi juga ada administrasi, kemudian mengurus mbg, dan sebagainya...
Tantangan menjadi guru tidak berhenti disini..ada murid yang perlu diajari, terdapat berbagai situasi dan kondisi murid yang ditemui, ada guru yang berada dilingkungan dengan murid yang ingin belajar dan didukung oleh keluarga yang paham pendidikan, di sisi lain, banyak guru yang harus menghadapi murid yang tidak tau untuk apa belajar, tidak mau belajar, dan orang tuanya pun tidak paham pentingnya pendidikan, bahkan seringkali guru harus menjadi korban dipolisikan..
Seperti siklus, barangkali lingkungan masyarakat itu tidak mendapat pendidikan yang baik, sehingga orang tuanya pun tidak paham tentang pendidikan ini, yang kemudian ditularkan kepada anak-anaknya, yang berujung pada banyak masalah sosial lainnya, pada akhirnya guru harus mampu menampatkan diri agar selamat namun terus berupaya maksimal memberikan pendidikan.
Belum selesai...masalah internal guru pun banyak, yang barangkali masalah seperti ini kita temui di mana saja, di perusahaan, masyarakat, komunitas, perkantoran, semuanya pasti ada masalah internal. Pada kasus guru di sekolah negeri, seringkali masalah kedisiplinan guru banyak ditemukan, yang memperparah ketidakdisiplinan ini adalah tidak adanya hukuman yang mengikat terhadap guru sekolah negeri, saat guru terlambat harusnya ada teguran atau hukuman karna melanggar aturan, tapi faktanya hal ini sulit ditegakkan, kalau keras sedikit, bisa saja si tegas akan bernasib buruk, berbeda dengan swasta yang mudah menerapkan kedisiplinan karena ada perasaan takut dari guru akan kehilangan pekerjaan atau denda yang harus dibayarkan. Kemudian ada pula masalah cara belajar mengajar di kelas, ada guru yang serius dengan cita-citanya, dia tau betul tujuannya dan seberapa penting perannya dalam pendidikan, disisi lain mungkin kita pernah menemukan guru yang tidak punya semangat pendidikan dan barangkali justru menjadi contoh buruk bagi muridnya.
Setelah memahami ini, perlunya tersedia data yang lebih rinci, seperti guru di satu sekolah ada berapa, dan satu guru mengajar berapa mata pelajaran, satu guru memegang berapa kelas, kemudian tugas lain selain mengajar apa saja, indikator guru kompeten seperti apa, kurikulum yang cocok itu apa..selama data rinci seperti ini belum tersedia, maka persoalan guru ini akan terus complicated..
Lebih-lebih lagi kasus korupsi yang tidak habisnya di semua lini kehidupan kita..bahkan di sektor yang dianggap mulia yaitu pendidikan. hal ini memperumit segalanya, untuk menangani kasus korupsi ini jelas di perlukan penegak hukum yang baik, dan pengawasan terhadap pendidikan yang baik, huhu memikirkannya saja sulit, karena ini pr panjang bangsa kita..
Pendidikan memberikan efek domino ke seluruh aspek kehidupan kita, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya sangat dipengarhi oleh ekosistem pendidikan, data rinci, akurat tentang pendidikan benar-benar menjadi urgensi, sedikit demi sedikit masalah pendidikan diurusi maka sedikit demi sedkit pula masalah kehidupan membaik, tidak sebentar..., sangat lama.., tapi kalau beramai-ramai mungkin bisa lebih cepat.
Saya sangat menyadari tulisan ini tidak cukup dan sangat tidak lengkap, ini hanya sebagian cerita yang saya dapatkan ketika duduk bercerita dengan guru muda yang saya kenal. tulisan ini hanya mencoba membedah sedikit demi sedikit masalah guru yang mungkin menjadi insight bagi kita bersama.
Referensi :
data.kemendikdasmen.go.id
emisgtk.kemenag.go.id










