Cerita Indonesia
Cerita seru Indonesia berdasarkan sudut pandang penulis yang lahir dan bangga sebagai anak Indonesia.
Belajar
Kewajiban dan Kebutuhan Manusia untuk belajar tentang berbagai studi menarik bagi penulis, semoga kalian juga tertarik.
Pemrograman
Ilmu yang menarik dan sangat berguna bagi kehidupan komputasi penulis dan kalian semua.
Tutorial
Semua hal menarik dalam hidup yang perlu dilakukan dengan hati-hati dan diperlukan wawasan agar dapat melakukan sesuatu dengan mudah.
Resep
Hobi penulis dan ketertarikan penulis akan resep-resep ibu yang sangat lezat.
Buang Sampah pada Tempat yang Tepat!
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menghitung gini ratio oleh Richard A. Benson
(1) Jumlah kelompok pengeluaran atau pendapatan
(3) Aggregation Bias
Referensi :
Benson, R. A. (1970). Gini ratios: Some considerations affecting their interpretation. American Journal of Agricultural Economics, 52(3), 444-447.
silastik.bps.go.id
Gini Ratio (Ketidakmerataan) Indonesia Tahun 2025 serta Perbandingannya dengan Negara Lain
Gini Ratio Indonesia Tahun 2025
20% kedua → ±11%.
20% ketiga → ±15%.
20% keempat → ±22%.
20% terkaya → ±45%.
Ada 10 orang, dan tersedia 10 potong kue, maka setiap orang mendapat 1 potong. Kalau kita hitung:
10% orang → 10% kue
20% orang → 20% kue
50% orang → 50% kue
100% orang → 100% kue
Ada 10 orang, tapi pembagian kue tidak rata:
4 orang termiskin → masing-masing cuma dapat setengah remah (total 2 potong).
3 orang menengah → masing-masing dapat 1 potong (total 3 potong).
2 orang agak kaya → masing-masing dapat 1,5 potong (total 3 potong).
Total tetap 10 potong, tapi distribusinya timpang.
40% orang termiskin hanya dapat ±20% kue.
20% orang terkaya dapat ±30% kue.
Kalau diplot ke Kurva Lorenz, garisnya akan melengkung di bawah garis 45°
Ayo Sekolah!
Cerita dari sudut pandang seorang mahasiswa kedinasan
Beruntung nya saat pertama masuk sekolah ini saya punya tujuan, saya punya kesedihan, saya punya penyesalan, saya punya keinginan....
Perasaan bangga, optimis, dan penuh semangat terus membara di tahun pertama perkuliahan, ekspektasi tentang pengabdian pada negara dan masyarakat terus menyala, rasanya melihat keadaan sekitar penuh rasa bangga
Rasa kagum pada teman yang mampu berbahasa inggris layaknya native, rasa bangga melihat teman yang peduli pada keadaan negara dan punya cita-cita besar untuk kemajuan negara, rasa kagum begitu besar hingga saya merasa tempat ini begitu ideal.
Idealisme yang saya pikirkan terasa cukup untuk digapai, sehingga terkadang membuat saya tidak terima jika ada yang menjelekkan, karena saya merasa tempat ini sempurna, isinya orang-orang baik, orang-orang pintar, orang-orang keren, dan orang-orang dengan jiwa yang baik untuk masyarakat.
Lambat Laun, layaknya gerimis yang sedikit demi sedikit membasahi baju, kemudian basah kuyup, lalu jatuh sakit, begitu pula proses kesadaran ini bahwa tidak ada tempat dengan idealisme seperti itu, sadar akan klise-klise dunia.
Saya mulai merasa dan bertanya, sekolah di kedinasan yang isinya orang-orang pintar membuat kalian merasa seperti apa?
Orang paling pintar di Indonesia? Bisa balas dendam pada mantan? Bisa mencari pasangan hidup yang kaya? Merasa tinggi? Bisa jadi orang kaya raya? Terlihat sempurna karena pintar dan menawan?, maka satu pertanyaan yang ingin saya masukkan dalam survei dan seharusnya menjadi pertanyaan dasar, karena sering kali ditanyakan di awal perkuliahan, Apa tujuan kalian memilih atau berkuliah disini?
Pertanyaan ini tidak hanya muncul di lingkungan perkuliahan, tapi juga muncul di lingkungan perkantoran yang pernah saya dalami, alih-alih idealisme yang saya pikirkan terpuaskan justru idealisme itu rasanya hampir hancur, satu dua cerita, kejadian, dan pengalaman yang mencengangkan, sulit saya terima, walaupun pada akhirnya harus saya akui. Maka saya kembali bertanya, apa perasaan saat bekerja disini? merasa kaya kah?, pintar kah?, sibuk kah?, gila kah?. Kalau ada seseorang untuk ditanya, maka saya tanyakan lagi sebagaimana saat dia kuliah dulu, apa tujuan mau atau memilih bekerja disini?
Melihat keadaan sekitar, saya ragu orang-orang akan menjawab untuk kebermanfaatan atau untuk masyarakat, tapi selama saya tidak tau, perasaan optimis dan tidak putus asa ini selalu ada, perasaan kagum yang saya rasakan akan selalu ada, namun kesadaran ini membuat saya khawatir dan hampir tidak terbayangkan, apakah bisa saya jadi orang bermanfaat dengan ilmu statistik ini? sekedar memungut sampah di jalan saja saya takut!!! Iya takut, malu dan sebagainya.
Kapankah jarak idealisme dan realita itu semakin dekat, saya pun orang biasa yang berbicara ini tidak lain hanya mahasiswa yang baru hampir lulus, mohon doanya semoga lulus. Saya belum pernah melihat uang satu triliun, siapa yang bisa menebak keadaan saya saat melihat uang itu? apakah saya masih bisa berbicara seperti ini? apakah saya bisa beristighfar pada momen itu?, mohon doa nya semoga saya selalu diberi pertolongan Allah SWT.
Target saya, tahun 2027 semoga data administrasi dan registrasi sudah dapat di implementasikan, masyarakat tidak susah lagi diganggu, data akan lebih baik kualitasnya, dan kebijakan tentu akan mengikuti dampak baiknya, meskipun data bukan satu-satunya faktor kemajuan bangsa ini, tapi pada sudut inilah saya mencoba untuk maksimal berkontribusi.
Percaya atau tidak cerita ini bisa saja mirip bahkan sama persis dengan semua sekolah yang ada di Indonesia, jadi ambil hikmahnya ya!
Angka Harapan Hidup (Life Expentancy) Indonesia Tahun 2024
Angka Harapan Hidup (Life Expentancy) Indonesia Tahun 2024


Referensi :
https://ourworldindata.org/
https://www.worldometers.info/
bps.go.id
Apa Itu Standar Hidup Layak BPS ? (Lengkap dan Mudah Dipahami)

Lantas apa 1.02 juta itu?















.png)









